Kamis, 06 Maret 2014

Apa itu Bullying?


Definisi Bullying

     Definisi bullying merupakan sebuah kata serapan dari bahasa Inggris. Istilah Bullying belum banyak dikenal masyarakat, terlebih karena belum ada padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia. Bullying berasal dari kata bully yang artinya penggertak, orang yang mengganggu orang yang lemah.
     Beberapa istilah dalam bahasa Indonesia yang seringkali dipakai masyarakat untuk menggambarkan fenomena bullying di antaranya adalah penindasan, penggencetan, perpeloncoan, pemalakan, pengucilan, atau intimidasi.
     Terdapat berbagai dampak yang ditimbulkan akibat bullying. Dampak yang dialami korban bullying tersebut bukan hanya dampak fisik tapi juga dampak psikis. Bahkan dalam kasus-kasus yang ekstrim seperti insiden yang terjadi, dampak fisik ini bisa mengakibatkan kematian.
     Hilda, et al (2006; dalam Anesty, 2009) menjelaskan bullying tidak hanya berdampak terhadap korban, tapi juga terhadap pelaku, individu yang menyaksikan dan iklim sosial yang pada akhirnya akan berdampak terhadap reputasi suatu komunitas.

Jenis-jenis Bullying

Selanjutnya, Riauskina, Djuwita, dan Soesetio mengelompokkan jenis-jenis bullying ke dalam 5 kategori yaitu:
Ø  Kontak fisik langsung, memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain.
Ø  Kontak verbal langsung, mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, member panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gossip.
Ø  Perilaku non-verbal langsung, melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam, biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal.
Ø  Perilaku non-verbal tidak langsung, mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng.
Ø  Pelecehan seksual, kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal. Meskipun anak laki-laki dan anak perempuan yang melakukan bullying cenderung sama-sama menggunakan bullying verbal, namun pada umumnya, perilaku bullying fisik lebih banyak dilakukan oleh anak laki-laki dan bullying bentuk verbal banyak digunakan oleh anak perempuan.

Faktor Penyebab Bullying

     Berdasarkan penelitian ini, Gentile dan Bushman mengungkapkan, ada enam faktor yang bisa menyebabkan anak menjadi seorang pengganggu atau melakukan bullying pada temannya. "Ketika semua faktor risiko ini dialami anak, maka risiko agresi dan perilaku bullying akan tinggi. 1-2 faktor risiko bukan masalah besar bagi anak, namun tetap butuh bantuan orang tua untuk mengatasinya," ungkap Gentile.
Ø  Kecenderungan permusuhan
Dalam hubungan keluarga maupun pertemanan, permusuhan seringkali tak bisa dihindari. Merasa yang dimusuhi akan membuat anak merasa dendam dan ingin membalasnya.
Ø  Kurang perhatian
Rendahnya keterlibatan dan perhatian orang tua pada anak juga bisa menyebabkan anak suka mencari perhatian dan pujian dari orang lain. Salah satunya pujian pada kekuatan dan popularitas mereka di luar rumah.
Ø  Gender sebagai laki-laki
Seringkali orang menilai bahwa menjadi seorang laki-laki harus kuat dan tak kalah saat berkelahi. Hal ini secara tak langsung menjadi image kuat yan menempel pada anak laki-laki bahwa mereka harus mendapatkan pengakuan bahwa mereka lebih kuat dibanding teman laki-laki lainnya. Akhirnya perilaku ini membuat mereka lebih cenderung agresif secara fisik.
Ø  Riwayat korban kekerasan
Biasanya, anak yang pernah mengalami kekerasan khususnya dari orang tua lebih cenderung 'balas dendam' pada temannya di luar rumah.
Ø  Riwayat berkelahi
Kadang berkelahi untuk membuktikan kekuatan bisa menjadikan seseorang ketagihan untuk tetap melakukannya. Bisa jadi karena mereka senang karena memperoleh pujian oleh banyak orang.
Ø  Ekspos kekerasan dari media
Televisi, video game, dan film banyak menyuguhkan adegan kekerasan, atau perang. Meski seharusnya, orang tua melakukan pendampingan saat menonton atau bermain video game untuk anak di bawah umur, nyatanya banyak yang belum melakukan ini. Ekspos media terhadap adegan kekerasan ini sering menginspirasi anak untuk mencobanya dalam dunia nyata.

Contoh Perilaku Bullying di Lingkungan Sekolah

     Contoh tindakan yang termasuk kategori bullying, baik perilaku individual maupun kelompok secara sengaja menyakiti atau mengancam korban di lingkungan sekolah diantaranya :
Ø  Menyisihkan seseorang dari pergaulan,
Ø  Menyebarkan gosip, mebuat julukan yang bersifat ejekan,
Ø  Mengerjai seseorang untuk mempermalukannya,
Ø  Mengintimidasi atau mengancam korban,
Ø  Melukai secara fisik,
Ø  Melakukan pemalakan/ pengompasan.

Ciri-ciri Korban Bulllying

Berikut adalah ciri-ciri anak yang menjadi korban bullying di sekolah :
Ø  Enggan untuk pergi sekolah
Ø  Sering sakit secara tiba-tiba
Ø  Mengalami penurunan nilai
Ø  Barang yang dimiliki hilang atau rusak
Ø  Mimpi buruk atau bahkan sulit untuk terlelap
Ø  Rasa amarah dan benci semakin mudah meluap dan meningkat
Ø  Sulit untuk berteman dengan teman baru
Ø  Memiliki tanda fisik, seperti memar atau luka
Ø  Munculnya keluhan atau perubahan perilaku akibat stres yang ia hadapi karena mengalami perilaku bullying.
Ø  Laporan dari guru atau teman atau pengasuh anak mengenai tindakan bullying yang terjadi pada anak.

Ciri-ciri Pelaku Bullying
Berikut adalah ciri-ciri anak yang menjadi pelaku bullying di sekolah :
Ø  Anak bersikap agresif, terutama pada mereka yang lebih muda usianya, atau lebih kecil atau mereka yang tidak berdaya (binatang, tanaman, mainan).
Ø  Anak tidak menampilkan emosi negatifnya pada orang yang lebih tua/ lebih besar badannya/ lebih berkuasa, namun terlihat bahwa sebenarnya anak memiliki perasaan tidak senang.
Ø  Ada laporan dari guru/ pengasuh/ teman-temannya bahwa anak melakukan tindakan agresif pada mereka yang lebih lemah atau tidak berdaya
Ø  Anak yang pernah mengalami bullying mungkin menjadi pelaku bullying untuk membalas dendam.


Karakter Korban Bullying

Karakter-karakter tertentu pada anak yang biasanya menjadi korban bullying, misalnya:
Ø  Sulit berteman
Ø  Pemalu
Ø  Memiliki keluarga yang terlalu melindungi
Ø  Dari suku tertentu
Ø  Cacat atau keterbatasan lainnya
Ø  Berkebutuhan khusus
Ø  Sombong, dll.

Dampak Bullying bagi Siswa

      Bullying tidak hanya berdampak terhadap korban, tapi juga terhadap pelaku, individu yang menyaksikan dan iklim sosial yang pada akhirnya akan berdampak terhadap reputasi suatu komunitas.

Ø  Dampak bagi korban
     Hasil studi yang dilakukan National Youth Violence Prevention Resource Center Sanders menunjukkan bahwa bullying dapat membuat remaja merasa cemas dan ketakutan, mempengaruhi konsentrasi belajar di sekolah dan menuntun mereka untuk menghindari sekolah. Bila bullying berlanjut dalam jangka waktu yang lama, dapat mempengaruhi self-esteem siswa, meningkatkan isolasi sosial, memunculkan perilaku menarik diri, menjadikan remaja rentan terhadap stress dan depreasi, serta rasa tidak aman. Dalam kasus yang lebih ekstrim, bullying dapat mengakibatkan remaja berbuat nekat, bahkan bisa membunuh atau melakukan bunuh diri (commited suicide).
     Coloroso mengemukakan bahayanya jika bullying menimpa korban secara berulang-ulang. Konsekuensi bullying bagi para korban, yaitu korban akan merasa depresi dan marah, Ia marah terhadap dirinya sendiri, terhadap pelaku bullying, terhadap orang-orang di sekitarnya dan terhadap orang dewasa yang tidak dapat atau tidak mau menolongnya. Hal tersebut kemudan mulai mempengaruhi prestasi akademiknya. Berhubung tidak mampu lagi muncul dengan cara-cara yang konstruktif untuk mengontrol hidupnya, ia mungkin akan mundur lebih jauh lagi ke dalam pengasingan.
     Terkait dengan konsekuensi bullying, penelitian Banks menunjukkan bahwa perilaku bullying berkontribusi terhadap rendahnya tingkat kehadiran, rendahnya prestasi akademik siswa, rendahnya self-esteem, tingginya depresi, tingginya kenakalan remaja dan kejahatan orang dewasa. Dampak negatif bullying juga tampak pada penurunan skor tes kecerdasan (IQ) dan kemampuan analisis siswa. Berbagai penelitian juga menunjukkan hubungan antara bullying dengan meningkatnya depresi dan agresi.

Ø  Dampak bagi pelaku
     National Youth Violence Prevention Resource Center Sanders mengemukakan bahwa pada umumnya, para pelaku ini memiliki rasa percaya diri yang tinggi dengan harga diri yang tinggi pula, cenderung bersifat agresif dengan perilaku yang pro terhadap kekerasan, tipikal orang berwatak keras, mudah marah dan impulsif, toleransi yang rendah terhadap frustasi. Para pelaku bullying ini memiliki kebutuhan kuat untuk mendominasi orang lain dan kurang berempati terhadap targetnya. Apa yang diungkapkan tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Coloroso mengungkapkan bahwa siswa akan terperangkap dalam peran pelaku bullying, tidak dapat mengembangkan hubungan yang sehat, kurang cakap untuk memandang dari perspektif lain, tidak memiliki empati, serta menganggap bahwa dirinya kuat dan disukai sehingga dapat mempengaruhi pola hubungan sosialnya di masa yang akan datang.
     Dengan melakukan bullying, pelaku akan beranggapan bahwa mereka memiliki kekuasaan terhadap keadaan. Jika dibiarkan terus-menerus tanpa intervensi, perilaku bullying ini dapat menyebabkan terbentuknya perilaku lain berupa kekerasan terhadap anak dan perilaku kriminal lainnya.

Ø  Dampak bagi siswa lain yang menyaksikan bullying (bystanders)
     Jika bullying dibiarkan tanpa tindak lanjut, maka para siswa lain yang menjadi penonton dapat berasumsi bahwa bullying adalah perilaku yang diterima secara sosial. Dalam kondisi ini, beberapa siswa mungkin akan bergabung dengan penindas karena takut menjadi sasaran berikutnya dan beberapa lainnya mungkin hanya akan diam saja tanpa melakukan apapun dan yang paling parah mereka merasa tidak perlu menghentikannya.

Cara Menghadapi Perilaku Bullying

Patti Criswell dalam bukunya, Stand up for Yourself and Your Friends, memberikan beberapa tips agar anak sebagai korban terlihat kuat dan dapat bertahan menghadapi pelaku
Ø  Bertindak percaya diri. Tegakkan kepala dan bahu, tataplah mata pelaku tanpa bermaksud menantang dan jaga suara agar tetap stabil saat berbicara. Bertindak percaya diri akan membantu anak merasa lebih percaya diri.
Ø  Beristirahat. Jika rasa percaya diri anak memudar, minta anak menjauh dari situasi tersebut.
Ø  Usahakan tetap tenang. Anak dilatih untuk mencoba berekspresi terganggu atau bosan. Jangan biarkan si pelaku tahu dia berhasil mengganggunya.
Ø  Mendinginkan diri. Dengan minum atau memercikkan air di wajah untuk membantu menenangkan perasaan panas.
Ø  Bernapas dalam-dalam. Menarik napas untuk memasukkan rasa percaya diri dan kekuatan, dan mengeluarkan perasaan stres dan khawatir.
Ø  Lepaskan saja. Berpikir tentang orang dewasa di sekolah yang dapat mendengarkan dan membantu jika anak mengalami hari yang berat. Jika tidak ada, tuliskan perasaan sehingga anak dapat membicarakannya ketika sampai di rumah.
Ø  Jangan balas dendam. Latih anak agar tidak mencoba untuk membalas dendam, karena dua kesalahan tidak membuat menjadi benar. Tidak meminta orang lain untuk berpihak, karena hanya akan terus melanjutkan pertengkaran. Tidak tinggal di rumah untuk menghindari si pengganggu di sekolah. Jangan bertindak histeris-hindari berteriak, merengek, dan kehilangan kontrol.

Cara Pencegahan Bullying

            Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya bullying di lingkungan sekolah :
Ø  Sosialisasi antibullying kepada siswa, guru, orang tua siswa, dan segenap civitas akademika di sekolah.
Ø  Penerapan aturan di sekolah yang mengakomodasi aspek antibullying.
Ø  Membuat aturan antibullying yang disepakati oleh siswa, guru, institusi sekolah dan semua civitas akademika institusi pendidikan/ sekolah.
Ø  Penegakan aturan/sanksi/disiplin sesuai kesepakatan institusi sekolah dan siswa, guru dan sekolah, serta orang tua dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur pemberian sanksi.
Ø  Membangun komunikasi dan interaksi antarcivitas akademika.
Ø  Meminta Depdiknas memasukkan muatan kurikulum pendidikan nasional yang sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif anak/siswa agar tidak terjadi learning difficulties.
Ø  Pendidikan parenting agar orang tua memiliki pola asuh yang benar.
Ø  Mendesak Depdiknas memasukkan muatan kurikulum institusi pendidikan guru yang mengakomodasi antibullying.
Ø  Muatan media cetak, elektronik, film, dan internet tidak memuat bullying dan mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengawasi siaran yang memasukkan unsur bullying.
Ø  Perlunya kemudahan akses orang tua atau publik, lembaga terkait, ke institusi pendidikan/sekolah sebagai bentuk pengawasan untuk pencegahan dan penyelesaian bullying atau dibentuknya pos pengaduan bullying.

Sumber
http://walidrahmanto.blogspot.com/2012/01/bullying-dan-solusinya.html
http://www.psychologymania.com/2012/06/jenis-jenis-bullying.html
  http://ardianazis.blogspot.com/2013/01/normal-0-false-false-false-in-x-none-x_2.html
http://female.kompas.com/read/2012/08/07/14121459/6.Penyebab.Anak.Suka.Mem-.Bully.
  

Lisianthus Flower (Eustoma grandiflorum)


Lisianthus Flower (Eustoma grandiflorum)




General Classification
Latin : Eustoma grandiflorum, group : Plantae, genus : Eustoma, family : Gentianaceae, species : Grandiflorum.
Description
Originally
Southern United States, Mexico, Caribbean, and Northern  South America
Habitat
growing indoors or in a warm climate
Size
15 - 60 cm in height
Shape
Long straight stems. The sepals are only fused close to the base. The petals form a trumpet or funnel-shaped corolla. Inserted stamens. Long and slightly twisted anthers.
Color
Purple, lilac, pink, white varieties, lavender, deep purple, and bi-colors such as blue-violet.
How to plant
1.      Choose root-bound plugs.
2.      Select an appropriately sized container
3.      Make sure your container has drainage holes.
4.      Fill the pot with a loose potting mix
5.      Test the pH of the soil.
6.      Dig a hole that is as deep as the plug.
7.      Remove the plug.
8.      Place the plug plant inside the hole.
9.      Place the pot onto a saucer.
Useful
As an ornamental, a potted indoor plant, and a cut flower.




Lisianthus Flower (Eustoma grandiflorum)

            Lisianthus flower or Eustoma grandiflorum is belongs to a group of plantae. Lisianthus is a genus of 3 species in the family Gentianaceae. Lisianthus flowers are of the Grandiflorum species and belong to the Eustoma genus. Lisianthus are found in warm regions of the Southern United States, Mexico, Caribbean and Northern South America.
The plants are best suited to growing indoors or in a warm climate. The plant grows well in neutral or mildly acidic soils and will thrive in a moist environment with good drainage. Lisianthus plants should be propagated in a warm environment and planted out in late spring, once the last frosts are over. The plant flowers in the summer and early autumn, but can be bought all year round from garden centres.
The plants can grow from 15cm to as much as 60cm in height depending on conditions. Lisianthus are long-stemmed flowers in cymes, with often only a few openings at a time. Sepals on Lisianthus are only fused close to the base and are much smaller than petals. The petals form a trumpet or funnel-shaped corolla. The stamens of the Lisianthus are inserted close to the base of the petals along with long and slightly twisted anthers. The Lisianthus stigmas are bilobed. Lisianthus also have oval leaves. The flowers come in various colors such as purple, lilac, pink, white varieties, lavender, deep purple, and bi-colors such as blue-violet.
Lisianthus is popular in horticulture, as an ornamental, a potted indoor plant, and a cut flower. When cut, Lisianthus flowers can last anywhere from two to three weeks in a vase.
To planting this flower, you have to follow this step :
First, Choose root-bound plugs. In order to transplant a plug cleanly into a new location, the plant should be well held together by its own roots. Otherwise, the transplanting process could get messy and may end up damaging the sensitive plant.
Second, select an appropriately sized container. The best size will depend on the variety you choose.
Third, make sure your container has drainage holes. Lisianthus roots can rot if allowed to sit in excess water, so good drainage is important. If the container you chose does not have holes in the bottom, drill one or two holes into the bottom using a power drill.
Fourth, fill the pot with a loose potting mix. A commercially available potting mix should be fine, and both soil and soilless mixes can work.
Fifth, test the pH of the soil. These plants demand a soil pH between 6.5 and 7.0m and serious problems can arise if the pH dips below 6.5. If your potting medium has a low pH, mix in some limestone to bring the pH back up.
Sixth, dig a hole that is as deep as the plug. Center the hole in the middle of the pot.
Seventh, remove the plug. Gently squeeze on the sides of the plastic to loosen the plant from the plug container. You should be able to remove the plant, soil and all, without any breakage.
Eighth, place the plug plant inside the hole. Pack the soil in the pot around the lisianthus plant to keep the new seedling in place. 
And the last is place the pot into a saucer. A saucer prevents excess water and soil from spilling out onto your counter or windowsill.

Additive Food and Its Influence for Human Health

ADDI TIVE FOOD AND ITS INFLUENCE FOR HUMAN HEALTH             Additive food is substances that are added to food in a little a...